Selasa, 03 November 2015

Kepemimpinan (Leadership)





PSIKOLOGI MANAJEMEN
KEPEMIMPINAN




KELOMPOK KENANGA :
3PA02
Mita Sahara                       (15513516)
PritaSaraswati                   (16513935)
Rani SeptiyanUtami         (17513288)
Ria Indah Ristianti           (17513549)
Tia Oktaviani                    (18513881)




  



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan kemampuan mempengaruhi orang lain, bawahan atau kelompok, kemampuan mengarahkan tingkahlaku bawahan atau kelompok, memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok.

1.2  Rumusan Masalah
1. Menjelaskan definisi kepemimpinan
2. Menjelaskan macam-macam teori kepemimpinan partisipatif

1.3  Tujuan
Agar pembaca dapat mengetahui dan memahami apa itu pengertian kepemimpinan dan mengetahui macam-macam teori kepemimpnan.


BAB II
PEMBAHASAN

1.    Definisi leadreship

   Menurut Hampil kepemimpinan adalah langkah pertama yang hasilnya barupa pola interaksi kelompok yang konsisten dan bertujuan menyelesaikan problem-problem yang saling terkait.
Menurut Stogdill kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas kelompok dalam rangka perumusan dan pencapaian tujuan.
    MenurutYukl (2005) kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi, memotivasi dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya demi efektivitas dan keberhasilan suatu organisasi.
Menurut Nawawi dan Hadari (2006) adalah kepemimpinan adalah kemampuan atau kecerdasan yang mendorong sejumlah orang agar bekerja sama dalam melaksanakan kegiatan yang terarah pada tujuan bersama.
  Menurut Suyanto (2009) adalah kepemimpinan yaitu penggunaan keterampilan seseorang dalam mempengaruhi orang lain.

2.    Teori kepemimpinan Partisipatif

A.    Teori X dan Y
Salah satu model perilaku kepemimpinan adalah teori X dan Y yang di kemukakan oleh Dougles McGregor. Teori ini didasarkan pada berbagai asumsi tentang para karyawan dan bagaimana memotivasi mereka. Berbagai asumsi yang mendasari Teori X dan Y adalah :

X
Y
Karyawan tidak suka (malas) bekerja, kalau mungkin menghindarinya
Karyawan suka bekerja
Karyawan selalu ingin diarahkan
Karyawan yang memiliki komitmen pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya sendiri,
Pimpinan harus selalu mengawasi kerja
Karyawan belajar untuk menerimabahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja

Asumsi yang dikembangkan dalam teori X pada dasarnya cenderung negative dan gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam suatu organisasi adalah gaya  kepemimpinan petunjuk (directive leadership style). Gaya kepemimpinan petunjuk sangatlah tepat diterapkan pada karyawan yang cenderung pasif, malas bekerja, tidak kreatif dan inovatif.
Sementara dalam Teori Y pada dasarnya cenderung positif dan gaya kepemimpinan yang diterapkan adalah gaya kepeimpinan partisipatif (partisipative leadership style).


B.     Teori Sistem ke 4 dari Rensis Liker

     Adalah tentang sistem cara yang paling ideal untuk membangung sebuah organisasi, yaitu dengan cara seorang ketua menanyakan kepada seluruh anggotanya tentang rencana-rencana/ ide-ide apa yang ingin dilakukan, setelah seluruh ide/ide atau rencana-rencana sudah terkumpul ke tualah yang secara formal untuk mengambil keputusan. Dan disitulah akan terjalin/terjadinya suatu komunikasi yang intens terhadap ketua dan seluruh anggota ke dalam segara arah, maka setiap individu yang terlibat didalam kelompok tersubut akan memiliki rasa tanggung jawab kepada pekerjaan yang ditanganinya. Dan untuk memotivasi dan untuk memberikan semangat kepada anggota kelompoknya, ketua kelompok akan memberikan hadiah kepada para anggotanya tidak hanya berupa ekonomi tetapi juga berupa kesepakatan yang telah ditentukan bersama.

C.     Teori Of Leadership Pattern Choice dari Tannenbaum dan Schmidt

      Ada tujuh “pola kepemimpinan yang diidentifikasi oleh Tannenbaum dan Schmidt. Pola kepemimpinan ditandai dengan angka-angka di bagian bawah diagram ini mirip dengan gaya kepemimpinan, tetapi definisi dari masing-masing terkait dengan proses pengambilan keputusan. Demokrasi (hubungan berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh bawahan. Otoriter (tugas berorientasi) pola kepemimpinan yang ditandai oleh penggunaan wewenang oleh pemimpin. Perhatikan bahwa sebagai penggunaan kekuasaan oleh bawahan meningkat (gaya demokratis) penggunaan wewenang oleh pemimpin berkurang secara proporsional.

1.      Kepemimpinan Pola 1: “Pemimpin izin bawahan berfungsi dalam batas-batas yang ditentukan oleh superior.” Contoh: Pemimpin memungkinkan anggota tim untuk memutuskan kapan dan seberapa sering untuk bertemu.
2.      Kepemimpinan Pola 2: “Pemimpin mendefinisikan batas-batas, dan meminta kelompok untuk membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin mengatakan bahwa anggota tim harus memenuhi setidaknya sekali seminggu, tetapi tim bisa memutuskan mana hari adalah yang terbaik.
3.      Kepemimpinan Pola 3: “Pemimpin menyajikan masalah, mendapat kelompok menunjukkan, maka pemimpin membuat keputusan.” Contoh: Pemimpin meminta tim untuk menyarankan hari-hari baik untuk bertemu, maka pemimpin memutuskan hari apa tim akan bertemu.
4.  Kepemimpinan Pola 4: “Pemimpin tentative menyajikan keputusan untuk kelompok. Keputusan dapat berubah oleh kelompok.” Contoh: Pemimpin kelompok bertanya apakah hari Rabu akan menjadi hari yang baik untuk bertemu. Tim menyarankan hari-hari lain yang mungkin lebih baik.
5.      Kepemimpinan Pola 5: “Pemimpin menyajikan ide-ide dan mengundang pertanyaan.” Contoh: Pemimpin tim mengatakan bahwa ia sedang mempertimbangkan membuat hari Rabu untuk pertemuan tim. Pemimpin kemudian meminta kelompok jika mereka memiliki pertanyaan.
6.  Kepemimpinan Pola 6: “Para pemimpin membuat keputusan kemudian meyakinkan kelompok bahwa keputusan yang benar.” Contoh: Pemimpin mengatakan kepada anggota tim bahwa mereka akan bertemu pada hari Rabu. Pemimpin kemudian meyakinkan anggota tim bahwa Rabu adalah hari-hari terbaik untuk bertemu.
7.      KepemimpinanPola 7: “Para pemimpin membuat keputusan dan mengumumkan ke grup.” Contoh: Pemimpin memutuskan bahwa tim akan bertemu pada hari Rabu apakah mereka suka atau tidak, dan mengatakan bahwa berita itu kepada tim.

D.      Modern choice approach to participation

   Teori kepemimpinan model Vroom dan Yetton ini merupakan salah satu teori kontingensi. Teori kepemimpinan Vroom dan Yetton disebut juga teori Normatif, karena mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentana gaya kepemimpinan yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu. Vroom danYetton memberikan beberapa gaya kepemimpinan yang layak untuk setiap situasi.
        Berikut ini saya akan memberikan subuah contoh pemimpin yang menggunakan gaya atau model teori dari Vroom dan Yetton. Misalnya adalah suatu pemerintahan di dalam masyarakat,dimana di dalam masyarakat ada ketua RT yang bertugas mimimpin wilayah didaerah nya dan ada masyarakat sebagai anggota nya. Ketika menemui suatu persolan atau permasalahan maka ketua RT akan mengumpulkan warga nya yang berperan sebagai anggota untuk ikut berkumpul dan mencari pemecahan masalah bersama-sama. Ketua RT akan menyampaikan permasalahan dan meminta saran pemecahan kepada masyarrakatnya.Semua saran dari anggota di tampung dan dievaluasi serta pemimpin dan para anggotanya bersama-sama mencari alternatif pemecahan masalahnya. Semua alternative di evaluasi untuk mencapai tujuan bersama dan untuk mencapai solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Seorang ketua RT tidak mempengaruhi anggota masyarakat untuk mengikuti saran darinya. Seorang ketua RT akan mengikuti saran alternatif pemecahan masalah yang menurut para anggota nya adalah adalah alternatif yang paling baik. Seorang ketua RT akan menerima saran pemecahan dan akan melaksanakan pemecahan yang di dukung oleh seluruh anggota.
      Menurut teori Vroom dan Yetton seorang ketua RT menggunakan gaya kepemimpinan G-II,dimana gaya kepemimpinan ini memiliki ciri-ciri :
Pemimpin memberitahukan persoalan kepada bawahan sebagai satu kelompok.bersama-sama mereka ,pemimpin menghasilkan dan menilai berbagai alternativepemecahan masalah dan berusaha untuk mencapai suatu kesetujuan atau konsensus mengenai satu pemecahan. Peran pemimimpin mirip seorang ketua. Pemimpin tidak mencoba untuk mempengaruhi kelompok untuk menerima pemecahan. Pemempin bersedia untuk menerima dan melaksanakan setiap pemecahan yang didukung oleh seluruh anggota kelompok.

E.       Teori kepemimpinan dari konsep contingency theory of leadership dari Fiedler

Pakar lain yang juga mengembangkan teori kepemimpinan kontingensi adalah Fiedler (1967) dan Vroom – Yetton (1973). Fiedler (Dunford, 1995;Sweeney dan McFarlin, 2002) mengukur gaya kepemimpinan berbasis tanggapan pemimpin terhadap karakter pekerjanya, yang dikenal dengan pengukuran skala Least Prefered     Co-worker (LPC). LPC digunakan untuk mengetahui keyakinan pemimpin bahwa apa yang diharapkan, akan benar-benar dapat terjadi, karena memiliki pengendalian situasi (situational control). Pengendalian situasi ditentukan oleh tiga factor yakni: (1) hubungan pemimpin-bawahan, (2) struktur tugas, dan (3) kedudukan kekuasaan. Sehingga gaya kepemimpinan yang efektif bervariasi sejalan dengan derajat pengendalian terhadap situasi. Adapun model Vroom–Yetton berusaha menggambarkan pendekatan kepemimpinan yang memadai untuk mengambil keputusan dalam beragams ituasi, sehingga muncul kepemimpinan autocratic, consultative, dan group decision making.

F.        Teori Kepemimpinan dari konsep Path goal theory

     Path-goal theory (teori jalan-tujuan) merupakan teori yang mengemukakan bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu para pengikut dalam mencapai tujuan-tujuan mereka dan untuk member pengarahan yang dibutuhkan dan/ dukungan untuk memastikan bahwa tujuan-tujuan mereka selaras dengan tujuan umum  kelompok atau organisasi. Inti dari teori jalan-tujuan (path-goal theory) adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk memberikan informasi, dukungan atau sumber-sumber daya lain yang dibutuhkan kepada para pengikut agar mereka bisa mencapai berbagai tujuan mereka. Istilah jalan-tujuan berasal dari keyakinan bahwa para pemimpin yang efektif semestinya bisa menunjukkan jalan guna membantu pengikut-pengikut mereka mendapatkan hal-hal yang mereka butuhkan demi pencapaian tujuan kerja dan mempermudah perjalanan serta menghilangkan berbagai rintangannya.


Daftar Pustaka

Ismainar, Hetty. (2015). Manajemen Unit Kerja: Untuk Perekam Medis dan Informatika Kesehatan Ilmu. Yogyakarta: Deepublish.
Rumanti, Maria Assumpta. (2002). Dasar-dasar public relations teoridanpraktik. Jakarta: Grasindo.
Lumpe, M. P. (2008). Leadership and organization in the aviation industry.Ashgate: USA.
Purwanto, D. (2006). KomunikasiBisnis: Edisiketiga. Jakarta: Erlangga.

Bender, Peter Urs. (2001). Leadership From Within. Toronto: Stoddart Publishing Co. Limited.

Selasa, 20 Oktober 2015

Kekuasaan



PSIKOLOGI MANAJEMEN
KEKUASAAN





KELOMPOK KENANGA :
3PA02
Mita Sahara                       (15513516)
Prita Saraswati                  (16513935)
Rani Septiyan Utami        (17513288)
Ria Indah Ristianti           (17513549)
Tia Oktaviani                    (18513881)




BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas. Kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.
Kekuasaan dapat dilihat dari kemampuannya dalam memberikan pengaruh pada pihak lain, sedangkan besarnya pengaruh dapat dilihat dari perubahan psikologis/ sikap pada orang lain. Frech dan Raven berpendapat bahwa sumber kekuasaan berasal dari : Reward power, coercive power, legitimate power, expert power, referent power dimana akan dibahas dalam bahasan dibawah ini.
1.2  Rumusan Masalah
1. Menjelaskan definisi kekuasaan
2. Menjelaskan sumber kekuasaan menurut Frech dan Raven.

1.3  Tujuan
Agar pembaca dapat mengetahui dan memahami pengertian dari kekuasaan serta memahami sumber-sumber kekuasaan menurut Frech dan Raven.


  
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kekuasaan
           
Menurut Ramlan Surbakti, kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi.
Abdul Muiz, mengungkapkan bahwa Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas.
Menurut Max Weber, kekuasaan itu sebagai suatu kemungkinan yang membuat seorang aktor di dalam suatu hubungan sosial berada dalam suatu jabatan untuk melaksanakan keinginannya sendiri dan yang menghilangkan halangan.
Kekuasaan menurut Miriam Budiardjoadalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku.
2.2 Sumber Kekuasaan Menurut Frech dan Raven

Kekuasaan dapat dilihat dari kemampuannya dalam memberikan pengaruh pada pihak lain, sedangkan besarnya pengaruh dapat dilihat dari perubahan psikologis/ sikap pada orang lain. Berikut adalah sumber-sumber kekuasaan menurut Frech dan Raven:
1.      Reward power (kekuasaan balas jasa/member imbalan)
Bersumber pada persepsi bahwa atasan dapat memberkan imbalan seperti yang diharapkan. Dasarnya adalah persepsi seseorang memiliki kemampuan untuk memberi hadiah pada pihak lain.
2.      Coercive power (kekusaan member hukuman/ sanksi)
Bersumber pada persepsi bahwa atasan mempunyai kekuasaan untuk memneri tekanan atau hukuman. Dasarnya adalah persepsi bahwa hukuman berupa fisik atau psikis pada pihak lain agar menuruti kehendaknya.
3.      Legitimate power (kekuasaan legitimasi)
Bersumber pada persepsi bahwa atasan memiliki hak untuk menetapkan segala sesuatu baginya. Didasarkan pada hak-hak formal yang diterima sejalan dengan posisi, preran dan kewenangan dengan dan organisasi.
4.      Expert power (kekuasaan karna keahlian pada bidang tertentu)
Bersumber pada persepsi bahwa atasan mempunyai sejumlah pengetahuan atau keahlian khusus yang diperlukan. Dimiliki oleh orang tertentu dan sangat berarti bagi orang lain, dengan keahliannya ia dapat menyuruh orang lain untuk menuruti kehendaknya karena orang lain merasa sangat tergantung padanya.
5.      Referent power (kekuasaan panutan, berhubungan dengan rasa kagum dan suka terhadap oknum tersebut)
Bersumber pada ketertarikan atau identifikasi bawahan terhadap atasannya. Kemampuan ini berkembang dari kekaguman satu pihak Berta keinginan dari pihak pengagum untuk menjadi seperti yang dikagumi.


  



Daftar Pustaka
Surbakti, R. (1986). Ilmu politik, Jakarta: PT. Gramedia.
Djastuti, A., &Yudayanti, I. (2005). Analisis pengaruh factor-faktor leader power terhadap kepuasaan kerja. Jurnal Studi Manajemen&Organisasi. Vol. 2 No. 1.


Selasa, 13 Oktober 2015

Mempengaruhi Perilaku


PSIKOLOGI MANAJEMEN
MEMPENGARUHI PERILAKU





KELOMPOK KENANGA :
3PA02
Mita Sahara                       (15513516)
Prita Saraswati                  (16513935)
Rani Septiyan Utami        (17513288)
Ria Indah Ristianti           (17513549)
Tia Oktaviani                    (18513881)




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Mempengaruhi perilaku adalah cara yang bisa membuat orang lain cenderung menyetujui dan menganggap pendapat anda benar. Untuk dapat mempengaruhi perilaku orang lain diperlukan adanya usaha untuk menarik perhatian orang lain ataupun menjalin komunikasi dengan baik agar terjalin adanya kepercayaan, agar anda dapat mengetahui apa yang disukai dan dibutuhkan orang lain sehingga anda dapat mengubah perilaku mereka dengan mengatakan apa yang ingin mereka dengar dan mereka lihat.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Menjelaskan tentang definisi pengaruh dari para ahli
2.      Membahas kunci-kunci perubahan perilaku
3.      Menjelaskan berbagai model cara mempengaruhi perilaku
4.      Menjelaskan tentang apa itu wewenang
1.3  Tujuan
Agar pembaca dapat mengetahui dan memahami bagaimana cara mempengaruhi perilaru serta mengetahui kunci perubahan perilaku agar dapat mengaplikasikan cara mempengaruhi perilaku dengan berbagai model dalam kehidupan sehari-hari.



BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pengaruh

Menurut Wiryanto, pengaruh adalah tokoh formal dan informal di masyarakat yang memiliki ciri-ciri cosmopolitan, inovatif, kompeten, dan aksesibel di bandingkan dengan pihak yang dipengaruhi.
Menurut Bertram Juhannes Otto Schrieke, pengaruh adalah bentuk dari suatu kekuasaan yang tidak dapat di ukur kepastiaannya.
Menurut Albert R. Robert & Gilbert, pengaruh adalah wajah kekuasaan yang di peroleh oleh orang saat tidak memiliki kewenanggan untuk mengambil keputusan.

2.2 Kunci – kunci Perubahan Perilaku

Perilaku adalah personality itu sendiri, dan bentuk personality adalah perilaku. Perilaku dibentuk dari keterkaitan antara daya intelektual dan perbuatan. Artinya, bagaimana dia berpikir begitulah dia berbuat, dan sebaliknya. Daya intelektual adalah potensi alamiah manusia yang telah diberikan oleh Tuhan dengan maksud agar manusia dapat menjadi khalifah di muka bumi, sekaligus menjauhkan dirinya dari berperilaku seperti binatang. Daya intelektual ini bisa disebut dengan ‘idealisme’.
Potensi harus digunakan sebaik mungkin. Rasa ingin tahu, banyak memiliki informasi atau mengaitkan informasi dengan fakta yang ada merupakan bagian dari potensi daya intelektual. Jadi, yang harus dilakukan oleh manusia adalah banyak melakukan pembelajaran, kajian ataupun diskusi sehingga memiliki cara pandang tertentu. Dalam hal ini P2KP memiliki metode jitu yang disebut dengan Diskusi Kelompok Terarah (DKT), yakni sebuah pembelajaran dan pendalaman topik guna menghimpun potensi menuju perubahan yang diinginkan.
Sementara itu, perbuatan adalah aktualisasi kecendrungan manusia terhadap apa yang dipikirkan. Perbuatan yang lahir tidak atas idealisme seseorang bukan merupakan cerminan perbuatan yang dimaksud. Sekali lagi, hal yang kita inginkan adalah perilaku yang tunggal, bukan ganda. Artinya, perbuatan terbentuk dari idealisme yang satu. Jika perbuatan terbentuk dari idealisme lain-lain berarti personality individu tersebut ‘gado-gado’ atau tidak jelas, bahkan lahir sosok skeptisisme (munafik). Daya intelektual disatukan dengan perbuatan akan melahirkan idealisme sejati.
Perilaku yang akan menjadi kunci perubahan di masyarakat adalah sikap yang mampu melalui berbagai benturan dengan gemilang, adanya kepercayaan diri tanpa batas, dan tekad untuk terus berjuang hingga titik nadir. Perubahan masyarakat akan berimplikasi terhadap perubahan individu, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia.

- Courage: diperlukan keberanian,kebulatan,tekad dan keteguhan hati
- High confidence : kekuatan penggerak hidup anda
- Attitude: mental yang positif
- New action: tindakan yang benar-benar konsisten
- Goal: target atau tujuan yang benar-benar diinginkan
- Excellence :menjadi yang terbaik

2.3 Model-model dalam Mempengaruhi Perilaku Orang Lain

Cara mempengaruhi orang lain dengan dasar Pendekatan Komunikasi Persuasi dikemukakan oleh Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;
1.   Logical argument (logos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah disinggung dalam komponen data.
2.   Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif.
3.   Argument based on credibility (ethos), yaitu ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.

Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;
1.   Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
2.   Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa (KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.
3.   Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
4.   Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunak’an pilihan kata yang mudah diingat (memorable) oleh audience/ komunikate dengan tujuan membuat efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan diksi “nggak ada loe nggak rame…”. 
Namun keempat pendekatan tersebut dapat dikombinasikan sesuai dengan tujuan persuasi dari komunikator.

Wewenang

Wewenang adalah kekuasaan untuk memebuat keputusan, merumuskan dan melaksanakan kebijakan. Wewenang merupakan dasar hukum untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas dan tanggung jawab dapat dilaksanakan dengan baik. Wewenang jua dapat diartikah hak atau otoritas untuk bertindak melakukan suatu kegiatan tertentu ke arah pencapaian tujuan.

Perananan wewenang dalam menejemen.
      
       Wewenang dalam menejemen berperan untuk bisa mengarahkan seseorang supaya bisa bekerja di bidang yang dikuasi olehnya.
Contohnya : Owner, menggumpulkan para pegawainya untuk mengerjakan/menyelesaikan proyek kerajinan tangan. Sang owner mempunyai wewenang supaya proyeknya berjalan sesuai dengan rencananya, maka ia mengelompokan para pegawainya menjadi beberapa kelompok sesuai dengan kemampuan yang di miliki pegawainya.Hall ini dilakukan agar menajemen waktu dan menajemen pekerjaannya bisa berjalan dengan seimbang. Hasil yang diikinkan terujud dan selesai dengan tepat waktu.



Daftar Pustaka
Sarwono, S. W. (2005). Psikologi Sosial (Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan).                  Balai Pustaka, Jakarta.
Pardamean, Maruli. (2008). Panduan lengkap pengelolaan kebun dan pabrik kelapa sawit.            Jakarta Selatan: PT Agro Media Pustaka.

Putong, Iskandar. (2015). Kepemimpinan teoritis dan praktis. Jakarta: GagasMedia.

Mindtools

APLIKASI PSIKOLOGI KOGNITIF SAINS dalam TI  A.       Mindtools 1.          Definisi Mindtools Mindtools adalah alat bantu belajar ...